Musicians Wanted

Titisan Band

Titisan Band
Ifen in Malang post

News Titisan Band

Kecil-Kecil Ngeband

19-September 2013 pukul 23:25

Malang Post Titisanband

Home » KotaMalang, Musik,Pendidikan

Kecil-kecilNgeband


3 Agustus 2008 No Comment

Ada banyak faktor untuk menjadi musisi. Meskimasih anak-anak tapi tidak jarang musisi justru bakal lahir dari bakat-bakatalami. Seperti yang terjadi pada Titisan Band. Siapa menduga, mereka nantinyabisa menjadi musisi besar. Mereka adalah satu diantara 33 peserta kompetisiband yang digelar Malang Post

Seorang guru SD dan keempat muridnya, berada satupanggung dengan busana hitam putih. Sambil memegang instrumen yang tampak‘kebesaran’, dengan pede-nya mereka menggeber Wonder Woman-nya Mulan Jameeladan Munadjat Cinta-nya The Rock.

Mereka benar-benar tampil penuh percaya diri, dihadapan penonton yang menjejali pertigaan Stasiun Kota Baru. Tak ada kesangrogi apalagi minder. Padahal kompetitor mereka adalah band-band yangberpengalaman manggung, khususnya di Malang Raya.

Titisan Band memang beda. Selain Sobirin yangmemang guru kesenian, semua personilnya masih duduk di bangku kelas tiga danempat SD. Mereka adalah Kristia Putri (vokal), Bega Saputra (gitar), LahudiAnwar (bass), dan Wahyudi Ika (drum).

‘’Awalnya anak-anak, terutama Bega, Lahudi, danWahyudi, sangat nakal di sekolah. Mereka sering bikin gaduh di kelas, kotekan(menabuh meja), dan sulit menangkap pelajaran. Bahkan siswa lain tak ada yangberani,’’ ungkap Sobirin.

Tapi Sobirin tak lantas menghukum mereka. Berbekalpengalamannya sebagai guru seni, ia pun bisa melihat bakat-bakat terpendam darikenakalan tersebut. Terutama ketika mereka kotekan.

‘’Daripada kotekan di kelas, lebih baik sayabimbing mereka ke arah yang lebih positif. Lalu saya ajak keempat anak iniuntuk bermusik,’’ lanjutnya.

Ia pun langsung tersenyum gembira. Anak-anak initertarik untuk nge-band. Sekolah pun mendukung. Sedangkan orang tua tak merasakeberatan. ‘’Main musik itu enak. Aku nanti bisa lari-lari di atas panggung,’’ceplos Bega Saputra, dengan kepolosannya.

Bakat-bakat ini memang ajaib. Mereka tak pernahikut les atau belajar tentang musik sebelumnya. Bahkan Wahyudi tak pernahmengerti nama komponen-komponen drum, seperti hi-hat, snare, tom, atau cymbal.

‘’Kami semua suka lagu Wonder Woman. Belajarnya yamendengarkan itu saja,’’ tutur Lahudi sambil tersipu malu.

Tapi awalnya memang tak berjalan mulus. Biayamenjadi kendala utama. Tapi itu tak menyurutkan niat mereka untuk menekunisalah satu cabang seni ini.

‘’Kalau mau menyewa studio buat latihan, saya danorang tua sering iuran. Empat ribu atau lima ribu rupiah. Biasanya kami latihantiap Kamis dan Sabtu sepulang sekolah,’’ imbuh pria ramah ini.

Sebagai anak band, hasil latihan tentu tak adagunanya jika tak ditampikan di depan orang lain. Mereka pun nekad ikut festivalatau parade band.

‘’Tapi anak-anak nggak pernah mau kalau main tanpasaya. Kata mereka, nggak semangat nanti mainnya,’’ tuturnya.

Buah dari kerja keras itu sekarang sudah tampak.Mereka baru saja menyabet Juara III Parade Band Peduli AIDS di BendunganKarangkates. ‘’Anak-anak juga menjadi lebih penurut. Mereka sudah tak nakallagi di sekolah,’’ tambahnya.

Ke depannya, ia berharap bakat-bakat muda ini lebihdiperhatikan. Ia tak ingin usahanya membimbing mereka berhenti di tengah jalan.Apalagi saat ini Titisan sudah mulai merekam tiga lagu mereka.
‘’Saya ingin les dan jadi musisi kalau bisa. Kayak pemain gitarnya MulanJameela,’’ harap Bega. (anang panca kurniawan) (Anang PK/malangpost)

Keywords: Musik, SD, sekolah

Tidak ada entri.
Tidak ada entri.